“Lahir dan dibesarkan di Kota Minyak Sorong, Setelah Lulus dari Jurusan Manajemen Universitas Terbuka Anisa ingin mewujudkan mimpinya membuka usaha rumah makan dari Kota Sorong hingga Sabang. Mahasiswa Program Bidikmisi ini bersyukur dapat duduk dibangku perguruan tinggi, namun juga bersedih karena program tersebut tidak ada lagi setelah angkatannya padahal program tersebut sangat membantu”.

Sorong, staff.ut.ac.id – Diselah tugas mewawancarai dan mendalami tutor berprestasi, kesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa adalah hal yang tidak pernah terlewati, adalah hari Jumat-Sabtu (05-06/04/2019) waktu yang disiapkan kepala UPBJJ Sorong  bapak Safriansyah, S.Sos., M.Si untuk bersilaturahmi dengan mahasiswa UPBJJ Sorong selepas kegiatan tutorial tatap muka (TTM).

Bersama teman satu angkatan saat mengikuti kelas Tutorial Tatap Muka (TTM)

Beruntung dapat hadir ditengah intelektual muda kota Sorong yang notabene adalah mahasiswa Universitas Terbuka registrasi 2017.2. Banyak cerita yang didapat dari pertemuan dengan kaum milenial Kota Sorong ini.  Semua aktivitas mahasiswa tersebut merupakan praktik baik yang patut dikiranya  dituangkan dalam tulisan,  namun satu kisah berikut terilhami dari perjuangan Kartini yang menjadi menginspirasinya serta  semangat wirausaha  yang digelutinya.

Kisah ini bermula dari usaha nasi kuning milik orang tuanya, namun kini Nisa  berani memutuskan membuka usaha warung lalapan meskipun masih tergolong usaha bersama keluarganya. Nisa berkisah, ketika menerima bea siswa bidikmisi dia berpikir bahwa uang tersebut tidak boleh mengendap lama di bank, karena uang tersebut sudah diberikan pemerintah untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya, “uang tersebut harus saya putar buat usaha, biar tidak berhenti sampai tabungan saja” ungkap Nisa saat ditanya digunakan untuk apa saja bea siswa bidikmisi.

Dara berparas cantik kelahiran Sorong bulan Agustus tahun 1999,  sempat putus asa ketika niatnya untuk menjadi pramugari tidak kunjung mendapat restu dari orang tuanya meskipun keinginan tersebut sudah disampaikannya sedari duduk kelas 11 MAN Model Sorong.  Kini kepercayaan diri Nisa kembali bangkit  setelah bergabung dengan Universitas Terbuka  perguruan tinggi negeri banyak mata kuliah yang  berkatian dengan bisnis yang sedang ditekuninya saat ini. Sehinga cita-cita Nisa pun berpindah haluan untuk menjadi pengusaha rumah makan yang terkenal dengan cabangnya  dari  Sorong hingga Sabang.

Mulai dari pukul 17.00 – 00.00 WIT adalah waktu untuk Nisa menjalankan usahanya, menurutnya waktu tersebut adalah waktu yang prima (prime time) untuk membuka warung, tentu waktu yang tidak biasa disaat pelajar/mahasiswa lain memulai waktu belajarnya. 

Anisa Nur Azizah dari Warungya (07/04/2019) Saat Mengikuti Tuton EKMA 4215 Manajemen Operasi.

Saat ditanya mengenai cara membagi waktunya antara menjalankan usaha dan belajar Anisa Nur Azizah menyebutkan bahwa dia sangat bersyukur dapat kuliah dan berusaha karena di Universitas Terbuka mahasiswa diorientasikan untuk belajar mandiri tidak terpaku oleh waktu kuliah. Sehingga ketika menggelar usaha saya juga bisa sambil belajar online dan membaca modul melalui apilikasi yang sudah disediakan oleh Universitas Terbuka. “ kalau sedang tidak ramai, saya buka tutorial online dan baca modul yang diaplikasi” ungkap Nisa.

Dikulik mengenai laba perhari yang diterimanya, Putri dari pasang Asril Jalil  dan  Milu Susilo Dewi  ini tidak merahasiakannya karena menurutnya  rezeki sudah ditentukan oleh pemilik-Nya, meskipun tidak sama yang diterima, “Alhamdulillah laba  berkisar 1,5 juta rupiah perhari”.  Ditelisik  keunggulan warung lalapannya, Nisa sembari tersipu-sipu menyampaikan bahwa usaha sejenis banyak tumbuh di kota Sorong namun racikan bumbu sambel embah putrinya lah menjadi daya tarik sekaligus keunggulan warungnya.

Penasaran rasa sambel warung Nisa, teman-teman dapat mencicipinya  diwarung “Sahabat Aloha” yang beralamat dijalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Sorong, namun jangan pernah datang disetiap tanggal 23 bulan apapun  ya gaes, karena tanggal tersebut sudah diputuskan berdasarkan mufakat ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk Nisa dan Keluarganya berdagang.

Diakhir perbincangan gadis keturunan Makassar-Solo ini sempat menyampaikan kesedihan karena tidak ada lagi program bidikmisi seperti yang ia rasakan, program tersebut sangat membantu kami mengenal dan belajar dibangku perguruan tinggi, ‘Semoga kami bukan angkatan yang terakhir menerima program bea siswa bidikmisi, program tersebut sangat bermanfaat”. Harap Nisa untuk program bidikmisi diadakan kembali dikotanya demi kemajuan generasi Kota Sorong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *